Nice

  • Latest News

    Friday, March 1, 2013

    Pandangan ‘Ulama –Ulama Ahlus sunnah Terhadap Peringatan dan Perayaan Maulid (Ihtifal bi Maulid) Nabi Muhammad SAW

    Pandangan ‘Ulama –Ulama Ahlus sunnah Terhadap Peringatan dan Perayaan Maulid (Ihtifal bi Maulid) Nabi Muhammad SAW

    Dalam kesempatan ini blog almudira ingin membagi artikel yang kami nukil dari sebuah situs yang sangat bermanfaat yaitu Lajnah Bahtsul Masail MUDI Mesra Samalanga tentang perayaan Maulid nabi Besar Muhammad SAW. Perayaan maulid Nabi SAW, adalah suatu acara yang telah dilaksanakan oleh umat Islam semenjak dahulu dan diakui oleh para ulama-ulama besar dari dahulu hingga sekarang. Namun orang-orang yang anti maulid sangat kelewatan sehingga menuduh perayaan maulid sebagai sebuah bid`ah dan mengikuti kaum Nasrany. Seharusnya kalaupun mereka tidak mengakui bahwa perayaan maulid sebagai satu amalan yang baik, seharusnya mereka bersikaf inshaf dan menghargai perbedaan pendapat, karena para ulama dari golongan selain mereka membolehkannya dan menganggapnya sebagai satu kebaikan. Sedangkan kemungkaran hanya boleh diingkari dan dicegah apabila maksiat tersebut termasuk kemaksiatan yang disepakati.
    Berikut ini beberapa komentar para ulama dari masa dahulu hingga masa sekarang tentang parayaan maulid.
    Diantara komentar para ulama tersebut kami kutip dari kitab para ulama sesudah mereka yang menghikayah kalam mereka, dan sebagian yang lain kami kutip langsung dari kitab karangan mereka.

    1. Imam Hasan Al-Bashri (21 H/642 M – 110 H/728 M) rahimahullah :

    وددت لو كان لي مثل جبل أحد ذهبا لأنفقته على قراءة مولد الرسول

    “Seandainya aku memiliki emas seumpama Gunung Uhud, niscaya aku akan menafkahkannya kepada orang yang membacakan maulidir-Rasul”. [1]

    2. Imam Al-Junaid Al-Baghdadi rahimahulllah :

    من حضر مولد الرسول وعظم قدره فقد فاز بالإيمان

    “Siapa saja yang menghadiri maulidir-Rasul dan mengagungkan Rasul saw, maka ia adalah orang yang memperoleh kemenangan dengan iman”. [2]

    3. Imam Syamsuddin Muhammad bin ‘Abdullah Al-Jaziri rahimahullah :

    قد رؤي أبو لهب بعد موته في النوم فقيل له ما حالك ؟ فقال : في النار إلا أنه يخفف عني كل ليلة اثنين وأمص من بين أصبعي ماء بقدر هذا وأشار لرأس أصبعه وإن ذلك باعتاقي لثويبة عند ما بشرتني بولادة النبي صلى الله عليه وسلّم وبإرضاعها له ، فإذا كان أبو لهب الكافر الذي نزل القرآن بذمة جوزي في النار بفرحه ليلة مولد النبي صلى الله عليه وسلّم به فما حال المسلم الموحد من أمة النبي صلى الله عليه وسلّم يسر بمولده ويبذل ما تصل إليه قدرته في محبته صلى الله عليه وسلّم ؟ لعمري إنما يكون جزاؤه من الله الكريم أن يدخله بفضله جنات النعيم
    “Sungguh telah diperlihatkan di dalam tidur (mimpi) bahwa sesungguhnya Abu Lahab setelah kematiannya, ditanyakan kepadanya :”Bagaimana keadaanmu?”. Maka Abu Lahab menjawab :”(Aku berada) di dalam neraka, hanya saja siksaan yang diringankan dariku adalah pada hari Senin dan aku bisa menghisap air sekedarnya dari sela-sela jari -lalu Abu Lahab member isyarah dengan ujung jarinya- dan sungguh semua itu karena aku telah memerdekakan Tsuwaibah ketika ia menyampaikan kabar gembira dengan lahirnya Nabi saw serta disebabkan ia juga menyusui Nabi saw”. Maka jika Abu Lahab yang kafir yang telah diturunkan ayat Alqur-an untuk mencelanya diberi ganjaran kebaikan di dalam neraka karena bergembira pada malam maulid Nabi Muhammad saw, lalu bagaimanakah dengan seorang Muslim yang mengesakan Allah SWT yang termasuk ummat Nabi Muhammad saw, menampakkan kesenangan dengan kelahiran Beliau dan mengeluarkan apa saja yang dia mampu demi kecintaannya kepada nabi saw?”. Demi umurku, sesunggguhnya yang pantas bagi mereka dari Allah Yang Maha Pemurah adalah memasukkan mereka dengan keutamaannya ke dalam surga yang penuh kenikmatan”. [3]

    4. Imam Abu Syamah (w. 665 H) Rahimahulllah :

    Abu Qasim Syihab ad-Din Abdur Rahman bin Ismail bin Ibrahim ad-Maqdisy ad-Dimsyiqy yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Syamah (w. 665 H) yang merupakan guru Imam Nawawi memuji pelaksanaan maulid dalam kitab beliau Al-Bahits `ala Inkar al-Bida`i wa al-Hawadits, kitab yang beliau karang untuk menerangkan masalah bid`ah, tetapi beliau memasukkan merayakan maulid dalam bid`ah hasanah yang terpuji. Beliau mengatakan dalam kitab tersebut:
    ومن أحسن ما ابتدع في زماننا ما يفعل كل عام في اليوم الموافق ليوم مولده صلى الله عليه وسلم من الصدقات والمعروف وإظهار الزينة والسرور فإن ذلك مع ما فيه من الإحسان للفقراء مشعر بمحبة النبي صلى الله عليه وسلم وتعظيمه في قلب فاعل ذلك وشكر الله تعالى على ما من به من إيجاد رسول الله صلى الله عليه وسلم الذي أرسله رحمة للعالمين
    “Termasuk hal yang paling bagus adalah apa yang disebut bid’ah pada zaman kita yaitu apa yang dikerjakan setiap tahun di hari kelahiran Nabi Muhammad saw terdiri dari bershadaqah, mengerjakan yang ma’ruf dan menampakkan rasa gembira. Maka sesungguhnya yang demikian itu yang di dalamnya terdapat kebaikan hingga para faqir adalah membaca sya’ir dengan rasa cinta kepada Nabi Muhammad saw, mengagungkan beliau dalam hati dan bersyukur kepada Allah SWT atas perkara dimana dengan kelahiran Nabi Muhammad saw tersebut menjadi penyebab adanya kerasulan dirinya yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam”. [4]

    5. Ibnu al-Hajj (w. 737 H)
    Imam Abu Abdullah Muhamad bin Muhammad bin Muhammad al-`Abdary al-Fasy al-Maliky yang lebih dikenal dengan Ibnu al-Hajj (w. 737 H) dalam sebuah kitab beliau al-Madkhal, sebuah kitab yang mengupas masalah bid`ah dalam agama. Dalam kitab tersebut pada fashal Maulid Nabi, beliau menerangkan bahwa umat islam mesti memerbanyak amal kebaikan dalam bulan kelahiran Nabi SAW sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas rahmatNya yang besar yaitu kelahiran Nabi Musthafa SAW. Beliau hanya mengecam beberapa kemaksiatan yang terjadi saat acara maulid. Beliau berkata:

    فكان يجب أن يزاد فيه من العبادات والخير شكرا للمولى سبحانه وتعالى على ما أولانا من هذه النعم العظيمة وإن كان النبي - صلى الله عليه وسلم - لم يزد فيه على غيره من الشهور شيئا من العبادات وما ذاك إلا لرحمته - صلى الله عليه وسلم - بأمته ورفقه بهم لأنه - عليه الصلاة والسلام - كان يترك العمل خشية أن يفرض على أمته رحمة منه بهم كما وصفه المولى سبحانه وتعالى في كتابه حيث قال {بالمؤمنين رءوف رحيم} [التوبة: 128] . لكن أشار - عليه الصلاة والسلام -إلى فضيلة هذا الشهر العظيم «بقوله - عليه الصلاة والسلام - للسائل الذي سأله عن صوم يوم الاثنين فقال له - عليه الصلاة والسلام - ذلك يوم ولدت فيه» فتشريف هذا اليوم متضمن لتشريف هذا الشهر الذي ولد فيه. فينبغي أن نحترمه حق الاحترام ونفضله بما فضل الله به الأشهر الفاضلة
    Maka semestinya dilebihkan pada prosesi maulid dari ‘ibadat dan kebaikan akan syukur bagi Allah SWT di atas apa saja yang telah diberikan Allah SWT kepada kita daripada segala nikmat sekalipun Nabi Muhammad saw tidak melebihkan sesuatu ‘ibadat apapun pada hari kelahirannya di atas bulan-bulan lainnya. Hal demikianlah hanyalah karena rahmatnya Nabi saw kepada ummatnya dan kasih sayangnya kepada ummat karena Nabi saw meninggalkan ‘amalan tersebut karena takut mewajibkan kepada ummatnya sekaligus sebagai rahmat kepada ummatnya sebagaimana Allah SWT telah mendeskripsikannya dalam Alqur-an pada ayat (dengan sekalian orang-orang beriman, (Muhammad) bijaksana dan penyayang). Akan tetapi Nabi saw telah mengisyarahkan kelebihan bulan kelahirannya yang agung dengan sabdanya bagi orang yang menanyakannya perihal puasa hari Senin. Maka Nabi saw menjawab “Demikian itu (puasa hari senin) adalah hari dimana aku dilahirkan. Maka memuliakan hari kelahirannya itu dikandung bagi memuliakan bulan kelahirannya. Maka sepatutlah kita hormati hari dan bulan kelahirannya dengan hak-hak kehormatannya dan kita lebihi dengan apa saja yang telah dilebihkan oleh Allah SWT terhadap bulan yang mempunyai kelebihan.[5]

    6. Imam Isma’il bin ‘Umar bin Katsir rahimahullah (774 H)

    Imam Ibnu Katsir memuji Raja al-Mudhaffar yang menyelenggarakan maulid secara besar-besaran. Beliau mengatakan :
    الملك المظفر أبو سعيد كوكبري ابن زين الدين علي بن تبكتكين أحد الاجواد والسادات الكبراء والملوك الامجاد له آثار حسنة

    “Raja Al-Muzhaffar Abu Sa’id Al-Kaukabari ibn Zainuddin `Ali bin Tabaktakin adalah seorang dermawan, pemimpin yang besar, serta raja yang mulia yang memiliki peninggalan yang baik.”

    Kemudian Imam Ibnu Katsir melanjutkan:

    وكان يعمل المولد الشريف في ربيع الاول ويحتفل به احتفالا هائلا وكان مع ذلك شهما شجاعا فاتكا بطلا عاقلا عالما عادلا رحمه الله وأكرم مثواه
    Dan dia menyelenggarakan maulid yang mulia di bulan Rabi’ul-Awwal secara besar-besaran. Ia juga seorang raja yang berotak cemerlang, pemberani, ksatria, pandai dan ‘adil –semoga Allah SWT mengasihinya dan menempatkannya di tempat yang paling baik”.

    Kemudian Imam Ibnu Katsir rahimahullah melanjutkan komentar beliau:
    وكان يصرف على المولد في كل سنة ثلاثمائة ألف دينار

    “Ia (Raja Al-Muzhaffar) membelanjakan hartanya sebesar 3000 dinar emas untuk perayaan maulid Nabi saw setiap tahunnya”. [6]

    Kalau memang menyelenggarakan maulid merupakan satu perbuatan bid`ah yang tercela, tentu saja Imam Ibnu Katsir tidak akan memuji beliau, dengan seorang yang alim, adil, tetapi tentu saja Imam Ibnu Katsir akan mengatakan bahwa beliau adalah salah satu ahli bid`ah.
    Sedikit catatan : Pengingkar Maulid Nabi saw juga tidak segan‐segan memutarbalikkan fakta (berbohong) atas nama Imam Ibnu Katsir rahimahullah. Kalangan ini mengatakan bahwa Imam Ibnu Katsir rahimahullah menuliskan dalam Kitabnya tersebut (Bidayah Wa An-Nihayah) bahwa yang pertama merayakan Maulid Nabi saw adalah Daulah Fathimiyah yang dibangun oleh seorang budak yang bernasab kepada kaum Yahudi.
    Mufti Negri Arab Saudi, Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz dalam kitab Fatwanya, Hal Nahtafil, ia mengatakan bahwa :

    وذكر الحافظ ابن كثير فى البداية والنهاية (11/172) ان الدولة الفاطمية - العبيدية المنتسبة الى عبيد الله بن ميمون القداح اليهودي- والتى حكمت مصر من (357هـ - 567 هـ) احدثوا احتفالات بايام كثيرة ومنها الاحتفال مولد النبي صلى الله عليه وسلم
    "Imam Ibnu Katsir dalam kitab al-Bidayah wa Nihayah (11/172) bahwa Daulah Fathimiyah-al-`Ubaidiyyah, nisbah kepada `Ubaid bin Maimun al-Qaddah al-Yahudi- yang berkuasa di Mesir dari tahun 357-567 H, mereka menciptakan beberapa perayaan, diantaranya perayaan Maulid Nabi SAW” [7]

    Ini adalah tuduhan dan tipuan atas nama Imam Ibnu Katsir. Bila kita membuka kitab al-Bidayah Ibn Katsir tersebut tidak kita temukan seperti yang mereka tuduhkan, malah Ibnu Ibnu Katsir memuji Raja al-Muzaffar yang selalu mengadakan perayaan maulid Nabi. [8
    Kitab Imam Ibnu Katsir tersebut, Al-Bidayah wan Nihayah dapat didonwload di website resmi Maktabah Syamilah, klik saja  shamela ws kitab tersebut dalam format box, format kitab dalam maktabah syamilah, sehingga dengan mudah bisa dilakukan pencarian kata. Silahkan tuliskan kata-kata yang dituduhkan kepada Imam Ibnu Katsir dan tekan opsi pencarian.
    7. Imam Syamsuddin bin Nashiruddin Ad-Damasyqi rahimahullah

    Beliau melantunkan sya’ir tentang Abu Lahab yang diringankan siksaan neraka pada hari Senin dikarenakan telah memerdekakan Tsuwaibah dan bergembira dengan kelahiran Nabi saw :

    إذا كان هذا كافرا جاء ذمه وتبت يداه في الجحيم مخلدا أتى أنه في يوم الإثنين دائما يخفف عنه للسرور بأحمد فما الظن بالعبد الذي كان عمره بأحمد مسرورا ومات موحدا

    “Jika orang kafir yang telah datang (tertera) celaan baginya -“dan celakalah kedua tangannya di dalam neraka Jahannam kekal di dalamnya”-, telah tiba pada (setiap) hari Senin untuk selamanya, diringankan (siksa) darinya karena bergembira dengan kelahiran Ahmad, maka bagaimanakah dugaan kita terhadap seorang hamba yang sepanjang usia, (karena) kelahiran Ahmad, lantas ia selalu bergembira dan tauhid menyertai kematiannya?!”. [9]

    8. Imam Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-‘Asqalani (w. 852 H) rahimahullah

    أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة، ولكنها مع ذلك قد اشتملت على محاسن وضدها، فمن تحرى في عملها المحاسن وتجنب ضدها كان بدعة حسنة، وإلافلا وقد ظهر لي تخريجها على أصل ثابت، وهو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى لله عليه وسلم قدم المدينة فوجد اليهود يصومون يوم عاشوراء فسألهم؟ فقالوا: و يوم أغرق لله فيه فرعون ونجى موسى فنحن نصومه شكرا لله تعالى، فيستفاد منه فعل الشكر لله على ما مَنَّ به في يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة، ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة، والشكرلله يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة، وأي نعمة أعظم من النعمة ببروزهذا النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم
    “Dasar ‘amal maulid adalah bid’ah yang tidak dinukilkan dari seorang pun ‘Ulama Salafush-Shalih dari kurun ke tiga. Akan tetapi, sungguh ‘amal maulid itu memuat kebajikan dan sebaliknya. Oleh karena itu siapa saja yang memperhatikan kebajikan dan menjauhi keburukan dalam pelaksanaan maulid, maka ‘amal maulidnya adalah bid’ah hasanah. Jika tidak demikian, maka sebaliknya. Dan sungguh telah jelas bagiku bahwa apa yang dikeluarkan atas dasar penetapan (hukum maulid), adalah riwayat yang tersebut di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad saw datang ke Madinah, maka beliau menemukan orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Rasulullah saw bertanya kepada mereka (tentang puasa tersebut)? Maka mereka menjawab :”Pada hari tersebut adalah hari dimana Allah telah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa kepada Allah Yang Maha Tinggi (atas semua itu)”. Maka faedah yang bisa diambil dari hal tersebut adalah bersyukur kepada Allah SWT atas sesuatu yang terjadi, baik karena menerima suatu kenikmatan yang besar atau terhindar dari bahaya dan mengulang-ngulang syukuran tersebut pada hari yang sama setiap tahun. Adapun syukur kepada Allah SWT dapat dilakukan dengan berbagai macam ‘ibadah, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah dan membaca Alqur-an. Dan adakah nikmat yang paling besar dari berbagai nikmat selain kelahiran Nabi Muhammad saw, dimana beliau adalah seorang Nabi yang penyayang, pada hari tersebut?!”.

    وأما ما يعمل فيه فينبغي أن يقتصر فيه على ما يفهم الشكر لله تعالى من نحو ما تقدم ذكره من التلاوة والإطعام والصدقة وإنشاد شيء من المدائح النبوية والزهدية المحركة للقلوب إلى فعل الخير والعمل للآخرة ، وأما ما يتبع ذلك من السماع واللهو وغير ذلك فينبغي أن يقال ما كان من ذلك مباحاً بحيث يقتضي السرور بذلك اليوم لا بأس بإلحاقه به ، وما كان حراماً أو مكروهاً فيمنع ، وكذا ما كان خلاف الأولى

    “Dan format acara yang diselenggarakan dalam maulid Nabi saw hendaknya dicukupkan dengan menyiratkan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT seperti yang telah disebutkan, yaitu membaca Alqur-an, menghidangkan jamuan, shadaqah, mendendangkan pujian pujian kenabian dan kezuhudan yang dapat menggerakkan hati untuk melakukan kebajikan dan ber’amal demi akhirat. Sedangkan yang selainnya, seperti mendendangkan lagu (selain pujian tadi), gurauan dan semisalnya, maka hendaknya yang mubah, yakni yang membuat bahagia di hari itu, maka tidak menngapa dimasukkan dalam acara maulid Nabi saw. Dan yang haram atau makruh maka dicegah, begitu pula yang khilaf aula” [10]

    9. Imam Jalaluddin ‘Abdirrahman bin Abi Bakar As-Suyuthi rahimahullah (w. 911 H)

    Imam Jalaluddin Abdir Rahman bin Abi Bakar as-Sayuthy (w. 911 H) mendukung pelaksanaan maulid, bahkan beliau mengarang satu kitab yang membahas dalil-dalil perayaan maulid, yaitu kitab Husnul Maqashid, yang juga dicetak didalam kitab Hawi lil Fatawi.

    عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك من البدع الحسنة التي عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف
    “Menurutku bahwa sesungguhnya ‘amal maulid yang berkumpulnya manusia, membaca beberapa ayat Alqur-an, meriwayatkan hadits‐hadits tentang permulaan sejarah Nabi dan tentang tanda‐tanda (kejadian‐kejadian) yang mengiringi kelahirannya adalah bid’ah hasanah yang diberi pahala kepada yang mengerjakannya karena termasuk sebagian daripada membesarkan kedudukan Nabi Muhammad saw dan menampakkan kesenangan dan kegembiraan dengan sebab kelahiran Nabi Muhammad saw yang mulia”.

    وقد ظهر لي تخريجه على أصل آخر، وهو ما أخرجه البيهقي عن أنس أن النبي صلى لله عليه وسلم عق عن نفسه بعد النبوة، مع أنه قد ورد أن جده عبد المطلب عق عنه في سابع ولادته
    “Dan sungguh sangat jelas bagiku yang dikeluarkan (diriwayatkan) atas dasar yang lain (dari pendapat Imam Ibnu HajarAl-‘Asqalani) yaitu apa yang diriwayatkan oleh Imam Al‐Baihaqi dari Anas ra bahwa sesungguhnya Nabi saw mengaqiqahkan dirinya sendiri sesudah (masa) kenabian, (padahal) sesungguhnya telah dijelaskan bahwa kakek beliau ‘Abdul Muththalib telah mengaqiqahkan (untuk Nabi) pada hari ke tujuh kelahirannya.

    والعقيقة لا تعاد مرة ثانية فيحمل ذلك على أن الذي فعله النبي صلى لله عليه وسلم إظهار للشكرعلى إيجاد لله إياه رحمة للعالمين، وتشريع لأمته كما كان يصلي على نفسه، لذلك فيستحب لنا أيضا إظها ر الشكر بمولده بالاجتماع وإطعام الطعام ونحو ذلك من وجوه القربات وإظهار المسرات

    “Adapun aqiqah tidak ada perulangan dua kali, maka dari itu sungguh apa yang dilakukan oleh Nabi saw menerangkan tentang (rasa) syukur beliau karena Allah telah mewujudkan (menjadikan) beliau sebagai rahmat bagi semesta alam, dan sebagai landasan bagi umatnya. Oleh karena itu, maka juga disunnahkan bagi kita untuk menanamkan (menerangkan) rasa syukur kita dengan kelahirannya (Rasulullah) dengan mengumpulkan (kaum Muslimin), menyajikan makanan dan semacamnya dari (sebagai) perwujudan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) dan menunjukkan kegembiraan (karena kelahiran beliau)”.

    إن ولادته صلى لله عليه وسلم أعظم النعم علينا، ووفاته أعظم المصائب لنا، والشريعة حثت على إظهار شكر النعم، والصبر والسلوان والكتم عند المصائب، وقد أمر الشرع بالعقيقة عند الولادة، وهي إظهار شكر وفرح بالمولود، ولم يأمر عند الموت بذبح ولا غيره، بل نهى عن النياحة وإظهار الجزع، فدلت قواعد الشريعة على أنه يحسن في هذا الشهر إظهار الفرح بولادته صلى لله عليه وسلم دون إظهار الحزن فيه بوفاته
    “Sesungguhnya kelahiran Nabi saw adalah paling agungnya kenikmatan bagi kita semua, dan wafatnya Beliau adalah musibah yang paling besar bagi kita semua. Adapun syari’at menganjurkan untuk mengungkapkan rasa syukur dan kenikmatan dan bersabar serta tenang ketika tertimpa mushibah. Dan sungguh syari’at memerintahkan untuk ber’aqiqah ketika (seorang anak) lahir, dan supaya menampakkan rasa syukur dan bergembira dengan kelahirannya dan tidak memerintahkan untuk menyembelih sesuatu atau melakukan hal yang lain ketika kematiannya bahkan syari’at melarang meratap (an‐niyahah) dan menampakkan keluh kesah (kesedihan). Maka jelaslah bahwa qa’idah‐qa’idah syari’at yang menunjukkan yang paling baik pada bulan ini (bulan Maulid) adalah menampakkan rasa gembira atas kelahirannya Nabi Muhammad dan bukan (malah) menampakkan kesedihan-kesedihan atas wafatnya Beliau”. [11]

    ما من بيت أو مسجد أو محلة قرىء فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم هلا حفت الملائكة بأهل ذلك المكان وعمهم الله بالرحمة والمطوقون بالنور يعني جبريل وميكائل وإسرافيل وقربائيل وعينائيل والصافون والحافون والكروبيون فإنهم يصلون على ما كان سببا لقراءة مولد النبي صلى الله عليه وسلم

    “Tiada sebuah rumah atau mesjid atau tempat pun yang dibacakan didalamnya Maulid Nabi melainkan dipenuhi Malaikat yang meramaikan penghuni tempat itu dan Allah SWT akan memberikan rahmat dan yang memberikan cahaya itu yakni ‐Jibril, Mikail, Israfil, Qarbail, ‘Inail, As-Shafun, Al-Hafun dan Al-Karubiyun-, maka sesungguhnya mereka (malaikat) itulah yang menshalawatkan (mendo’akan)nya karena membaca Maulid Nabi”.

    وما من مسلم قرىء في بيته مولد النبي صلى الله عليه وسلم إلا رفع الله تعالى القحط والوباء والحرق والآفات والبليات والنكبات والبغض والحسد وعين السوء واللصوص عن أهل ذلك البيت فإذا مات هون الله تعالى عليه جواب منكر ونكير وكان في مقعد صدق عند مليك مقتدر
    “Dan tidak ada seorang Muslim pun yang membaca Maulid Nabi di dalam rumahnya melainkan Allah SWT akan mengangkat wabah kemarau, kebakaran, karam, kebinasaan, kecelakaan, kebencian, hasad dan penglihatan yang jahat, serta pencurian dari ahli‐ahli rumah tersebut. Maka jika seorang Muslim tersebut meningggal dunia, Allah SWT akan memudahkan baginya dalam menjawab (pertanyaan) Malaikat Munkar dan Nakir. Dan mereka akan ditempatkan di dalam tempat yang benar pada sisi‐sisi raja yang berkuasa (Allah SWT)”. [12]

    Sangat jelas bagaimana pandangan Imam Sayuthy yang kemilmuan beliau diakui semua kalangan, dan memiliki karangan lebih dari 600 kitab yang terdiri dari berbagaimacam jenis ilmu, namun beliau tidak menganggap perayaan maulid sebagai bid`ah yang sesat.
    Bahkan Imam Asy-Sayuthy dalam kitab tersebut menolak pandangan Abi Hafash Tajuddin al-Fakihany (w. 734 H) yang mengatakan bahwa perayaan maulid adalah bid`ah yang sesat.

    10. Imam Muhammad bin ‘Abdurrahman As-Sakhawi rahimahullah :

    لَمْ يُنْقَل عَن أَحَدٍ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ فِيْ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ الْفَاضِلَةِ، وَإِنَّمَا حَدَثَ بَعْدُ، ثُمَّ مَا زَال أهْل الإِسْلاَمِ فِيْ سَائِرِ الأَقْطَارِ وَالْمُدُنِ الْعِظَامِ يَحْتَفِلُوْنَ فِيْ شَهْرِ مَوْلِدِهِ ‐ صَلَّى لله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ ‐ يَعْمَلُوْنَ الْوَلاَئِمَ الْبَدِيْعَةَ الْمُشْتَمِلَةَ عَلَى الأُمُوْرِ البَهِجَةِ الرَّفِيْعَةِ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ فِيْ لَيَالِيْهِ بِأَنْوَاعِ الصَّدَقَاتِ، وَيُظْهِرُوْنَ السُّرُوْرَ، وَيَزِيْدُوْنَ فِيْ الْمَ بَرَّاتِ، بَل يَعْتَنُوْنَ بِقِرَاءَةِ مَوْلِدِهِ الْكَرِيْمِ، وَتَظْهَرُعَلَيْهِمْ مِنْ بَرَكَاتِهِ كُل فَضْلٍ عَمِيْمٍ بِحَيْثُ كَانَ مِمَّا جُرِّبَ

    “Tidak pernah diperbincangkan dari salah seorang ulama Salafush-Shaleh pada kurun ke tiga yang mulia dan sungguh itu baru ada setelahnya. Kemudian umat Islam diseluruh penjuru daerah dan kota‐kota besar senantiasa memperingati Maulid Nabi dibulan kelahiran Beliau. Mereka mengadakan jamuan yang luar biasa dan diisi dengan perkara‐perkara yang menggembirakan serta mulia, dan bershaqadah pada malam harinya dengan berbagai macam shadaqah, menampakkan kegembiraan, bertambahnya kebaikan bahkan diramaikan dengan pembacaan Kitab-Kitab Maulid Nabi yang mulia, dan menjadi jelaslah keberkahan dan keutamaan (Maulid Nabi) secara merata dan semua itu telah teruji”.

    كَانَ مَوْلِدُه الشَّرِيْفُ عَلَى الأَصَحِّ لَيْلَةَ الإِثْنَيْنِ الثَّانِيَ عَشَرَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْع الأَوَّلِ، وَقِيْل :لِلَيْلَتَيْنِ خَلَتَا مِنْهُ، وَقِيْل : لِثَمَانٍ، وَقِيْل : لِعَشْرٍ وَقِيْل غَيْرُ ذَلِكَ، وَحِيْنَئِذٍ فَلا بَأْسَ بِفِعْلِ الْخَيْرِ فِيْ هذِهِ الأَيَّامِ وَاللَّيَالِيْ عَلَى حَسَبِ الاسْتِطَاعَةِ بَل يَحْسُنُ فِيْ أَيَّامِ الشَّْهرِ كُلِّهَا وَلَيَالِيْهِ
    “Adalah kelahiran Nabi yang mulia yang paling shahih adalah pada malam Senin, 12 Rabi’ul-Awwal. Ada juga yang berpendapat pada malam tanggal 2. Dikatakan juga pada tanggal 8, 10 dan lain sebagainya. Maka dari itu, tidak mengapa mengerjakan kebaikan pada setiap hari‐hari ini dan malam-malamnya dengan kemampuan yang ada bahkan bagus dilakukan pada hari‐hari dan malam- malam bulan (Rabi’ul-Awwal)”.

    وَأَمَّا قِرَاءَةُ الْمَوْلِدِ فَيَنْبَغِيْ أَنْ يُقْتَصَرَ مِنْهُ عَلَى مَا أَوْرَدَهُ أَئِمَّةُ الْحَدِيْثِ فِيْ تَصَانِيْف هِمْ- وَقَدْ حَدَّثْتُ بِهِ فِيْ الْمَحَلِّ الْمُشَارِ إِلَيْهِ بِمَ كة –الْمُخْتَصَّةِ بِهِ كَالْمَوْرِدِ الْهَنِيِّ لِلْعِرَاقِيِّ وَغَيْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ بَلْ ذُكِرَ ضِمْنًا كَدَلاَئِلِ النُّبُوَّةِ لِلْبَيْهَقِيِّ، وَقَدْ خُتِمَ عَلَيَّ بِالرَّوْضَ ةِ النَّبَوِيَّةِ، لأَنَّ أَكْثَرَ مَا بِأَيْدِيْ الْوُعَّاظِ مِنْهُ كَذِبٌ وَاخْتِلاَقٌ، بَلْ لَمْ يَزَالُوْا يُوَلِّدُوْنَ فِيْهِ مَا هُوَ أَقْبَحُ وَأَسْمَجُ مِمَّا لاَ تَحِلُّ رِوَايَتُهُ وَلاَ سَمَاعُهُ، بَلْ يَجِبُ عَلَى مَنْ عَلِمَ بُطْلاَنُهُ إِنْكَارُهُ وَالأَمْرُ بِتَرْكِ قِرَائِتِهِ، عَلَى أَنَّهُ لاَ ضَرُوْرَةَ إِلَى سِيَاقِ ذِكْرِ الْمَوْلِدِ، بَلْ يُكْتَفَى بِالت لاَوَةِ وَالإِطْعَامِ وَالصَّدَقَةِ، وَإِنْشَادِ شَىْءٍ مِنَ الْمَدَائِحِ النَّبَوِيَّةِ وَالزُّهْدِيَّةِ الْمُحَرِّكَةِ لِلْقُلُوْبِ إِلَى فِعْلِ الْخَيْرِ وَالْعَمَلِ لِلآخِرَةِ وَللهُ يَهْدِيْ مَنْ يَشَاءُ
    “Dan adapun pembacaan (kisah) kelahiran Nabi maka seyogyanya yang dibaca hanya yang disebutkan oleh para ulama Ahli Hadits dalam karangan‐karangan mereka yang khusus berbicara tentang kisah kelahiran Nabi, seperti Al‐Maurid Al‐Haniy karya Al‐‘Iraqi (Saya juga telah mengajarkan dan membacakannya di Mekkah), atau tidak khusus dengan karya‐karya tentang Maulid saja tetapi juga dengan menyebutkan riwayat‐riwayat yang mengandung tentang kelahiran Nabi, seperti kitab Dalail An‐Nubuwwah karya Al‐Baihaqi. Kitab ini juga telah dibacakan kepadaku hingga selesai di Raudlah Nabi. Karena kebanyakan kisah maulid yang ada di tangan para penceramah adalah riwayat‐riwayat bohong dan palsu, bahkan hingga kini mereka masih terus memunculkan riwayat riwayat dan kisah‐kisah yang lebih buruk dan tidak layak didengar, yang tidak boleh diriwayatkan dan didengarkan, justru sebaliknya orang yang mengetahui kebathilannya wajib mengingkari dan melarang untuk dibaca. Atas semua itu sesungguhnya tidak masalah ada pembacaan kisah - kisah maulid dalam peringatan Maulid Nabi, bahkan (juga) cukup membaca beberapa ayat Alqur-an, memberi makan dan sedekah, didendangkan bait‐bait Al-Madaih Nabawiyyah (pujian‐pujian terhadap Nabi) dan (sya’ir) kezuhudan (zuhudiyah), yang bisa menggerakkan hati untuk berbuat baik dan ber’amal untuk akhirat. Dan Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki”. [13]

    11. Imam Al-Yafi’i Al-Yamani rahimahullah :

    من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصارسببالقراءة مولد الرسول بعثه الله يوم القيامة مع الصديقين والشهداء والصالحين ويكون في جنات النعيم

    “Barangsiapa yang mengumpulkan saudara‐saudaranya untuk (merayakan) Maulid Nabi, menyajikan makanan, ber’amal yang baik dan menjadikannya untuk pembacaan Maulidir‐Rasul, maka Allah SWT akan membangkitkan pada hari qiamat bersama para Shadiqin, Syuhada dan Shalihin dan menempatkannya pada tempat yang tinggi”. [14]

    12. Imam Ma’ruf Al-Kurkhi rahimahullah :

    من هيأ لأجل قراءة مولد الرسول طعاما وجمع إخوانا وأوقد سراجا ولبس جديدا وتعطر وتجمل تعظيما لمولده حشره الله تعالى يوم القيامة مع الفرقة الأولى من النبيين وكان في أعلى عليين ومن قرأ مولد الرسول صلى الله عليه وسلم على دراهم مسكوكة فضة كانت أو ذهبا وخلط تلك الدراهم مع دراهم أخر وقعت فيها البركة ولا يفتقر صاحبها ولا تفرغ يده ببركة مولد الرسول صلى الله عليه وسلم

    “Barangsiapa menyajikan makanan untuk pembacaan Maulidir‐Rasul, mengumpulkan saudara‐saudaranya, menghidupkan pelita dan memakai pakaian yang baru dan wangi‐wangian dan menjadikannya untuk mengagungkan kelahiran Nabi saw, maka Allah akan membangkitkan pada hari qiyamat beserta golongan yang utama dari Nabi‐Nabi , dan ditempatkan pada tempat (derajat) yang tinggi”. [15]

    13. Imam Ahmad Zaini Dahlan rahimahullah :

    جرت العادة أن الناس إذا سمعوا ذكر وضعه صلى الله عليه وسلم يقومون تعظيما له صلى الله عليه وسلم وهذا القيام مستحسن لما فيه من تعظيم النبي صلى الله عليه وسلم وقد فعل ذلك كثير من علماء الأمة الذين يقتدى بهم
    “Telah berlakulah ‘adat bahwa sungguh manusia apabila mereka mendengar penyebutan wadha’ nya Nabi saw, maka mereka berdiri karena penghormatan bagi Nabi saw. Dan pelaksanaan berdiri ini adalah hal yang bagus karena termasuk mengagungkan Nabi saw dan telah dilakukan oleh kebanyakan ‘Ulama ummat dimana ummat ini mengikuti mereka (para ‘Ulama).” [16]

    14. Imam As-Sari As-Saraqaththi rahimahullah :

    من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة الرسول وقد قال عليه السلام من أحبني كان معي في الجنة
    “Barangsiapa yang menyediakan tempat untuk dibacakan Maulid Nabi saw maka sungguh dia menghendaki sebuah taman dari taman‐taman surga, karena sesungguhnya tiada dia menghendaki tempat itu melainkan karena cintanya kepada Rasul saw. Dan sungguh Rasul saw bersabda : “Barangsiapa mencintaiku, maka dia akan bersamaku di dalam surga”. [17]

    15. Imam Sayyid Muhammad bin ‘Alwi Al-Maliki Al-Hasani rahimahullah :

    إننا نرى أن الاحتفال بالمولد النبوي الشريف ليست له كيفية مخصوصة لابد من الالتزام أو إلزام الناس بها ، بل إن كل ما يدعو إلى الخير ويجمع الناس على الهدى و يرشدهم إلى ما فيه منفعتهم في دينهم ودنياهم يحصل به تحقيق المقصود من المولد النبوي
    “Kami memandang sesungguhnya memperingati Maulid Nabi saw yang mulia itu tidak mempunyai bentuk‐bentuk yang khusus yang mana semua orang harus dan diharuskan untuk melaksanakannya. Akan tetapi segala sesuatu yang dilakukan, yang dapat menyeru dan mengajak manusia kepada kebaikan dan mengumpulkan manusia atas petunjuk (agama) serta menunjuki mereka kepada hal‐hal yang membawa manfaat bagi mereka, untuk dunia dan akhirat maka hal itu dapat digunakan untuk memperingati Maulid Nabi”.
    ولذلك فلو اجتمعنا على شئ من المدائح التي فيها ذكر الحبيب صلى الله عليه وسلّم وفضله وجهاده وخصائصه ولم نقرأ القصة التي تعارف الناس على قراءتها واصطلحوا عليها حتى ظن البعض أن المولد النبوي لا يتم إلا بها ، ثم استمعنا إلى ما يلقيه المتحدثون من مواعظ وإرشادات وإلى ما يتلوه القارئ من آيات أقول : لو فعلنا ذلك فإن ذلك داخل تحت المولد النبوي الشريف ويتحقق به معنى الاحتفال بالمولد النبوي الشريف ، وأظن أن هذا المعنى لا يختلف عليه اثنان ولا ينتطح فيه عنزان
    “Oleh karena itu andaikata kita berkumpul dalam suatu majelis yang disitu dibacakan puji‐pujian yang menyanjung Al‐Habib (Sang Kekasih yakni Nabi Muhammad saw), keutamaan beliau, jihad (perjuangan) beliau, dan kekhususan-kekhususan yang berada pada beliau -lalu kita tidak membaca kisah Maulid Nabi saw yang telah dikenal oleh berbagai kalangan masyarakat dan mereka menyebutnya dengan istilah “Maulid” (seperti Maulid Diba’, Barzanji, Syaraful-Anam, Al‐Habsyi, dan lain sebagainya)-, yang mana sebagian orang menyangka bahwa peringatan Maulid Nabi itu tidak lengkap tanpa pembacaan kisah‐kisah Maulid tersebut kemudian kita mendengarkan mau’izhah‐mau’izhah, pengarahan‐pengarahan, nasehat‐nasehat yang disampaikan oleh para ‘Ulama dan ayat‐ayat Alaur-an yang dibacakan oleh seorang Qari, Saya mengatakan : “Andaikan kita melakukan itu semua maka itu sama halnya dengan kita membaca kisah Maulid Nabi saw yang mulia tersebut dan itu termasuk dalam makna memperingati Maulid Nabi saw yang mulia. Dan saya yakin bahwa peringatan yang saya maksudkan ini tidak menimbulkan perbedaan serta adu domba antara dua kelompok”. [18]

    يخطئ كثير من الناس في فهمهم لحقيقة المولد النبوي الذي ندعو إليه ونشجع عليه فيتصورون تصورات فاسدة يبنون عليها مسائل طويلة ومناقشات عريضة يضيعون بها أوقاتهم وأوقات القراء وهي كلها هباء لأنها مبنية على تصورات كما قلنا فاسدة

    “Banyak orang keliru dalam memahami subtansi maulid Nabi saw yang kami serukan dan kami anjurkan untuk menyelenggarakannya. Mereka mendefinisikannya secara keliru yang kemudian di atasnya dibangun banyak persoalan‐persoalan panjang dan perdebatan‐perdebatan yang luas yang membuat mereka menyia‐nyiakan waktu mereka dan para pembaca. Persoalan dan perdebatan ini tidak bernilai sama sekali laksana debu yang beterbangan. Karena dibangun di atas asumsi‐asumsi yang keliru”.

    وإن هذه الاجتماعات، هي وسيلة كبرى للدعوة إلى الله وهي فرصة ذهبية ينبغي أن لا تفوت، بل يجب على الدعاة والعلماء أن يذكروا الأمة بالنبي - صلى الله عليه وسلم - بأخلاقه وآدابه وأحواله وسيرته ومعاملته وعباداته، وأن ينصحوهم ويرشدوهم إلى الخير والفلاح ويحذروهم من البلاء والبدع والشر والفتن.
    “Pertemuan‐pertemuan dalam rangka merayakan maulid ini adalah wahana besar untuk mengajak mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia adalah kesempatan emas yang layak untuk tidak dilewatkan begitu saja. Bahkan wajib bagi para da`i dan ‘Ulama untuk mengingatkan ummat akan budi pekerti, etika, aktivitas, perjalanan hidup, mu’amalah dan ibadah beliau dan menasehati serta membimbing mereka menuju kebaikan dan kesuksesan dan memperingatkan mereka akan bencana, bid`ah, keburukan dan fitnah”. [19]
    16. Syaikh ‘Ali Jum’ah :
    Ulama besar zaman ini, Syeikh `Ali Jum`ah, mufti negri Mesir mengatakan:
    والاحتفال بذكر مولده صلى الله عليه وسلم من افضل الاعمال واعظم القربات لانه تعبير عن الفرح والحب له صلى الله عليه وسلم ومحبة النبي صلى اللع عليه وسلم اصل من اصول الايمان
    “Menyelenggarakan maulid Nabi saw termasuk sebaik-baik ‘amalan dan sebesar-besar qurbah (‘ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT) karena hal ini adalah penggambaran dari rasa senang dan cinta kepada Nabi saw. Dan mencintai Nabi Muhammad saw adalah dasar daripada dasar-dasar iman”. [20]

    17. Prof. DR. Sa`id Ramadhan Buthy
    Ulama besar Syeikh Prof. Dr. Said Ramadhan al-Buthy, seorang ulama besar saat ini menanggapi masalah perayaan maulid, beliau mengatakan:

    ومن أمثلة هذه السنة الحسنة تلك الاحتفالات التي يقوم بها المسلمون عند مناسبات معينة كبدء العام الهجري ومولد المصطفى صلى الله عليه وسلم، وعند ذكرى الإسراء والمعراج وذكرى فتح مكة وغزوة بدر ونحوها مما يتوخى من تحقيق خير يعود إلى مصلحة الدين
    “sebagian dari contoh sunnah hasanah adalah perayaan-perayaan yang dilaksanakan oleh kaum muslimin ketika bertepatan dengan kejadian tertentu seperti awal tahun baru hijriyah, maulid Nabi Musthafa saw, isra` mi`raj, peringatan Futuh Makkah, perang Badar dan seumpanya hal-hal yang dikehendaki untuk mewujudkan kebaikan yang kembali kepada maslahah agama.” [21]

    18. Syeikh Abdullah al-Harary (w. 1429 H)
    Syeikh Abu Abdur Rahman Abdullah bin Muhammad al-Harary (w. 1429 H) seorang ulama Libanon, asal Somalia mengatakan:

    من البدع الحسنة الاحتفال بمولد رسول الله صلى الله عليه وسلم فهذا العمل لم يكن فى عهد النبي صلى الله عليه وسلم ولا فيما يليه انما احدث فى أوائل القرن السابع للهجرة واول من احدثه ملك إربل وكان عالما تقيا شجاعا يقال له المظفر جمع لهذا كثيرا من العلماء فيهم من أهل الحديث والصوفية الصادقين فاستحسن ذالك العمل العلماء فى مشارق الارض ومغاربها منهم الحافظ أحمد بن حجر العسقلانى وتلميذه الحافظ السخاوى وكذالك الحافظ السيوطى وغيرهم
    Sebagian dari bid`ah hasanah adalah perayaan maulid Rasulullah SAW. Ini adalah amal yang tidak ada pada masa Nabi SAW dan tidak ada pada masa sesudah Nabi. Perayaan tersebut diadakan pada awal kurun ke tujuh Hijriyah. Yang pertama sekali mengadakannya adalah Raja Negri Irbil. Beliau adalah seorang raja yang alim, bertaqwa dan pemberani yang bernama al-Muzaffar. Dalam perayaan maulid beliau menghimpun para ulama dari kalangan ahli hadist dan shufi shadiqin. Perayaan tersebut dianggap baik oleh para ulama baik ulama di belahan timur maupun barat. Diantara mereka adalah al-Hafidh Ibnu Hajar al-Asqalani dan murid beliau al-Hafidh as-Sakhawy dan juga al-Hafidh as-Sayuthy. [22]

    19. Dr. Abdullah Umar Kamil
    Syeikh Dr. Abdullah Umar Kamil mengatakan :

    ان مجلس الاحتفال بالمولد النبي الشريف قربة من القربات لما يحتويه من صلاة على النبي صلى الله عليه وسلم وذكر الله وغير ذالك من القربات

    Majlis perayaan maulid Nabi yang mulia adalah satu qurbah dari beberapa qurbah karena perayaan tersebut mengandung shalawat kepada Nabi, zikir kepada Allah, dan qurbah yang lain. [23]
    20. dll

    Referensi:

    1. Imam Sayyid Abibakar Al-Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah Ath-Thalibin, Juz. III, Hal. 364, Cet. Toha Putra.
    2. Ibid.
    3. Imam As-Suyuthi, Al-Hawi Li Al-Fatawi, Bab Husn Al-Maqshud Fi ‘Amal Maulid, Hal. 230, Juz. I, Cet. Dar Al-Fikri, 2004.
    4. Al-Bahits `ala Inkar al-Bida`i wa al-Hawadits hal 23. Cet. Dar Hadi, Cairo
    5. Al-Madkhal, Ibn al-Hajj jilid 2 hal 2 Cet. Dar Turats
    6. Imam Ibnu Katsir, Al-Bidayah Wa An-Nihayah, Juz. XIII, Hal. 136, Cet. Maktabah Al-Ma’arif.
    7. Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz, Hal Nahtafil, yang dicetak satu bersama dalam kitab Sayyid Muhammad alwy al-Maliky, Al-I`lam bi Fatawa aimmah a`lam haula maulid shallahu `alaihi wa sallam hal 109. Cet Dar Kutub Ilmiyah thn 2006
    8. Sayyid Muhammad alwy al-Maliky, Al-I`lam bi Fatawa aimmah a`lam haula maulid shallahu `alaihi wa sallam hal 34. Cet Dar Kutub Ilmiyah thn 2006
    9. Imam Sayyid Abibakar Al-Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah Ath-Thalibin, Juz. III, Hal. 364, Cet. Toha Putra.
    10. Imam As-Suyuthi, Al-Hawi Li Al-Fatawi, Bab Husn Al-Maqshud Fi ‘Amal Maulid, Hal. 229, Juz. I, Cet. Dar Al-Fikri, 2004.
    11. Ibid, Hal. 221-231.
    12. Imam Sayyid Abibakar Al-Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah Ath-Thalibin, Juz. III, Hal. 365, Cet. Toha Putra.
    13. Imam Muhammad bin ‘Abdurrahman As-Sakhawi, Al-Ajwibah Al-Mardhiyah, Juz. III, Hal. 1116-1120, Cet. Dar Ar-Rayah, 1418 H.
    14. Imam Sayyid Abibakar Al-Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Hasyiyah I’anah Ath-Thalibin, Juz. III, Hal. 364, Cet. Toha Putra.
    15. Ibid, Hal. 364.
    16. Ibid, Hal. 363.
    17. Ibid, Hal. 365.
    18. Imam Sayyid Muhammad bin ‘Alwi Al-Maliki Al-Hasani, Haul Al-Ihtifal Bi Al-Maulid an-Nabawi Asy-Syarif. Hal. 22-23.
    19. Imam Sayyid Muhammad bin ‘Alwi Al-Maliki Al-Hasani, Mafahim Yajibu An-Tushahhah.
    20. Dr. ‘Ali Jum’ah, Al-Bayan Li Ma Yasyghal Al-Adzhan, Hal. 164, Cet. Al-Muqatam, 2005.
    21. Dr. Sa`id Ramadhan al-Buthy, Ihtifal bi Maulid Nabi.http://www.sufia.org
    22. Syeikh Abdullah al-Harary, Ar-Rawa-ih az-Zakiyah fi Maulid Khair al-Bariyyah hal 28 Cet. Syirkah Dar al-Masyari` thn 2009
    23. Dr. Abdullah Kamil, al-Inshaf hal 379 Cet. Wabil Shaib
    Sumber: http://lbm.mudimesra.com/2013/02/pandangan-ulama-ulama-ahlus-sunnah.html
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. sangat bermanfaat bagi sebagai orang yang masih awam sekali.
      terimakasih akhi..

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Pandangan ‘Ulama –Ulama Ahlus sunnah Terhadap Peringatan dan Perayaan Maulid (Ihtifal bi Maulid) Nabi Muhammad SAW Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top